Pendiri ma’rifat: Zunun Al-Misri. Menurut pahamnya, seorang yang sudah mencapai maqam ma’rifat bisa melihat rahasia Allah melalui sirr.
Ta’abbudi = ibadah harus sesuai dengan aturan. Misal shohat tidak boleh ditambah raka’atnya.
Fasiq = ibadah menyimpang (cth: sufi tdk sholat krn pahamnya: innassholata lidzikrii)
Zindiq = mengamalkan ibadah tapi pahalanya tidak ada. Cth : sehabis wudlu kemudian mencuri.
Org pertama yang mendapat gelar sufi adalah Abu Hasyim al-Kufi => al-shufi
Senin, 16 Januari 2012
Selasa, 10 Januari 2012
klasifikasi
D. Penggabungan Base Number dan Subdivisi Standar (BN + SS)
Base Number adalah notasi yang terdiri dari serangkaian simbol berupa angka yang mewakili serangkai istilah (yang mencerminkan subyek tertentu) yang terdapat dalam bagan. Dengan demikian setiap kelas, bagian dan sub-bagian di dalam bagan mempunyai notasinya sendiri.
Sebelumnya perlu diketahui bahwa dalam DDC terdapat Tabel Pembantu yang berbentuk serangkaian notasi khusus yang dipakai untuk menyatakan aspek-aspek tertentu yang selalu terdapat dalam beberapa subyek yang berbeda. Dalam DDC terdapat 7 Tabel Pembantu, tetapi dalam buku “Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey” karangan Drs. Towa P. Hamakonda, MLS dan J.N.B. Tairas hanya diberikan 6 tabel pembantu yaitu : Subdivisi Standar, Wilayah, Subdivisi Kesusastraan, Subdivisi Bahasa, Ras bangsa atau kelompok nasional, dan tabel untuk merinci bahasa dokumen.
Tabel Subdivisi Standar (Tabel 1) terdiri dari dua bilangan atau lebih, dimana bilangan pertama adalah 0, dapat ditambahkan pada setiap notasi untuk bagan utama secara langsung.
Tabel Subdivisi Standar notasi-notasinya tidak pernah digukanakn secara tersendiri melainkan bila perlu dapat digunakan bersama dengan setiap angka dari bagan klasifikasi. Ringkasan Tabel Subdivisi Standar sebagai berikut :
- 01 Filsafat dan teori
- 02 Aneka ragam
- 03 Kamus, ensiklopedi, konkordans
- 04 Topik-topik khusus
- 05 Penerbitan berseri
- 06 Organisasi dan manajemen
- 07 Pendidikan, penelitian, topic-topik berkaitan
- 08 Sejarahdan deskripsi berkenaan jenis-jenis orang
- 09 Pengolahan historis, geografis, perorangan
Penggabungan Base Number dan Subdivisi Standar (BN + SS) ada 3 kemungkinan, yaitu:
1. Tertulis / petunjuk sesuai dengan apa yang tertulis dalam DDC
• Untuk yang tertulis sudah ada dalam bagan DDC, menggunakan SS = 01 – 09. Contoh : kelas 610
• Untuk yang petunjuk maksudnya adalah yang tertulis dalam DDC hanya sebagian saja, yang sebagian lagi tidak dituliskan dalam DDC. Menggunakan SS = 001 – 009. Contoh : kelas 330
2. Perintah
Terdapat perintah dalam DDC misalnya menggunakan kata “gunakan” atau “use”. SS yang digunakan adalah 001 – 009. Contoh : kelas 300
3. Kosongan
Dalam DDC tidak terdapat perintah, ataupun tidak tertulis dan tidak ada petunjuk. SS yang digunakan adalah 01 – 09. Contoh : kelas 332
Contoh penggabungan BN + SS :
1. Teori Ilmu Filsafat
Ilmu Filsafat (SU) = 100 (BN00)
Teori (TT) = 01 (SS) (Tertulis)
BNØØ + S
1ØØ + 01 = 101
2. Kamus Ilmu-ilmu Sosial
Ilmu-ilmu Sosial (SU) = 300 (BN 00)
Kamus (TT) = 01 (SS) 003 (Perintah)
BN ØØ + SS
3ØØ + 003 = 300.3
E. Penggabungan Base Number dan Wilayah (BN + W)
Tabel Wilayah (Tabel 2) adalah tabel pembantu berupa notasi tetap untuk tempat, daerah, Negara dan benua tertentu. Notasi-notasi tabel wilayah tidak pernah diguakan tersendiri melainkan bila perlu dapat digunakan bersama dengan setiap angka dari bagan ataupun melaluia notasi -09 dari subdivisi standar, umpama Partai Politik di India (-54), menjadi 324.254. Notasi wilayah dapat juga digabungkan dengan angka-angka dari tabel lain bila dinyatakan demikian, umpamanya dengan notasi subdivisi standar -025.
Ringkasan Tabel Wilayah sebagai berikut :
- 1 wilayah, daerah, tempat pada umunya
- 2 manusia pada umumnya tanpa mengindahkan wilayah, daerah
- 3 dunia jaman purbakala
- 4 Eropa. Eropa barat
- 5 asia. Timur jauh
- 6 Afrika
- 7 Amerika Utara
- 8 Amerika Selatan
- 9 Bagian-bagian lain dari bumi dan dunia lain. Oseania
Penggabungan BN dan W ada 3 kemungkinan :
1. BN + W jika ada perintah
Digunakan jika dalam bagan DCC terdapat perintah untuk menggunakan tabel wilayah.
Contoh : kelas 328
2. BN + SSG + W jika tidak ada perintah
Digunakan jika dalam bagan DDC tidak terdapat perintah untuk menggunakan tabel wilayah.
Contoh : kelas 341
3. BN + 9 + W khusus untuk kelas 361
Digunakan hanya untuk kelas-kelas khusus dalam bagan DDC.
Contoh : kelas 361
Contoh penggabungan BN + W
1. Ilmu filsafat di Irlandia
Ilmu filsafat (SU) = 100 (BN00)
Irlandia (T2) = 415 (W)
SSG = 09
BNØØ + SSG + W
1ØØ + 09 + 415 = 109.415
3. Ilmu-ilmu Sosial Singapura
Ilmu-ilmu Sosial (SU) = 300 (BN 00)
Singapura (TT) = 5957 (W)
BN ØØ + SSG + W
3ØØ + 009 + 6668 = 300.95957
F. Penggabungan BN + SS/W
Untuk menggabungkan BN + SS + W dapat menggunakan tabel Subdivisi Standar (Tabel 1) untuk SS-nya dan menggunakan Tabel Wilayah (Tabel 2) untuk W seperti yang telah uraikan di atas.
Penggabungan BN + SS/W caranya adalah dengan menambahkan angka 0 di antara SS dan W. Rumusnya adalah :
BN + SS + 0 + W
Contoh penggabungan BN + SS/W sebagai berikut.
1. Teori ilmu filsafat di Irlandia
Ilmu filsafat (SU) = 100 (BN00)
Teori (TT) = 01 (SS) (tertulis)
Irlandia (T2) = 415 (W)
BNØØ + SS + 0 + W
1ØØ + 01 + 0 + 415 = 101.0415
4. Kamus Ilmu-ilmu Sosial di Singapura
Ilmu-ilmu Sosial (SU) = 300 (BN 00)
Kamus (TT) = 01 (SS) 003 (Perintah)
Singapura = 5957 (W)
BN ØØ + SS + 0 + W
3ØØ + 003 + 0 +5957 = 300.304957
G. Penggabungan BN + W1 + W2
Untuk penggabungan BN + W1 + W2 yang digunakan adalah Tabel Wilayah (Tabel 2). Dalam hal ini wilayah yang digunakan ada 2 wilayah, yaitu W1 dan W2. Cara penggabungan BN + W1 + W2 adalah dengan cara menambahkan angka 0 di antara W1 dengan W2.
Rumus penggabungan BN + W1 + W2 ada 2 macam, yaitu :
• BN + W1 + 0 + W2
Rumus ini digunakan bila dalam bagan terdapat perintah untuk menggunakan tabel wilayah.
• BN + SSG + W1 + 0 + W2
Rumus ini digunakan bila dalam bagan tidak terdapat perintah menggunakan tabel wilayah sehingga harus menggunakan SSG.
Contoh penggabungan BN + W1 + W2
1. Ilmu-ilmu murni di Mesir dan di Filipina
Ilmu-ilmu murni (SU) = 500 (BN00)
Mesir (T2) = 621 (W1)
Filipina (T2) = 599 (W2)
SSG = 09
BNØØ + SSG + W1 + 0 + W2
5ØØ + 09 + 621 + 0 + 599 = 509.6210599
5. Kesenian dan Seni Dekorasi di Siberia dan Belanda
Kesenian dan Seni Dekorasi (SU) = 700 (BN 00)
SSG = 09
Siberia (T2) = 57 (W1)
Belanda (T2) = 492 (W2)
BN ØØ + SSG + W1 + 0 + W2
7ØØ + 09 + 57 + 0 + 492 = 709.570492
H. Tes Keterampilan (kelas 153.94)
Tes keterampilan dalam bagan DDC adalah kelas 153.94. Dalam 153.94 tersebut terdapat petunjuk untuk subdivisi standar menggunakan tiga nol, yaitu 153.940001 – 153.940009.
Untuk kelas 153.94001 – 153.94999 merupakan tes keterampilan dalam bidang tertentu. Untuk tes keterampilan dalam bidang tertentu menggunakan rumus BN1+BN2
Contoh tes keterampilan:
• Menggunakan SS (BN + SS)
1. Teori tes keterampilan
Tes keterampilan (SU) = 153.94 (BN)
Teori (TT) = 01 (SS) => 0001 (petunjuk)
BN + SS
153.94 + 0001 = 153.940001
2. Kamus tes keterampilan
Tes keterampilan (SU) = 153.94 (BN)
Kamus (TT) = 03 (SS) => 0003 (petunjuk)
BN + SS
153.94 + 0003= 153.940003
• Tes keterampilan dalam bidang tertentu (BN1 + BN2)
1. 153.94001
153.94 ( BN1 ) = Tes keterampilan
001 ( BN2 ) = Ilmu pengetahuan umum
BN1 + BN2
153.94 + 001 = 153.94001
Tes keterampilan dalam bidang ilmu pengetahuan umum
2. 153.9401
153.94 ( BN1 ) = Tes keterampilan
01 => 010 ( BN2 ) = Bibliografi
BN1 + BN2
153.94 + 010 = 153.94010 = 153.9401
Tes keterampilan dalam bidang bibliografi
I. Kesusastraan (BN + SS/SK)
Kesusastraan dalam bagan DDC terdapat di kelas 800. Dalam mengklasifikasi subyek kesusastraan menggunakan Tabel Subdivisi Kesusastraan (SK).
Tabel Subdivisi Kesusastraan (SK) adalah tabel pembantu dalam DDC yang hanya digunakan untuk kelas kesusastraan (800). Notasi-notasi yang terdapat dalam tabel Subdivisi Kesusastraan tidak pernah digunakan secara tersendiri tetapi dapat digunakan bersama bila perlu dengan angka dasar masing-masing Kesusastraan di bawah 810-890. Umpama : untuk drama (-2) Sastra Indonesia (810), jadi drama sastra Indonesia adalah 812.
Ringkasan Tabel Subdivisi Kesusastraan sebagai berikut.
- 01-07 subdivisi standar
Notasi dari Tabel 1
- 08 kumpulan teks-teks kesussastraan
Dalam lebih dari satu bentuk
- 09 sejarah, deskripsi, penilaian kritis
- 1-8 bentuk-bentuk sastra
- 1 sajak (puisi)
- 2 drama
- 3 fiksi
Golongkan disini novel
- 4 esai
- 5 pidato-pidato
- 6 surat-surat
- 7 satir dan humor
Golongkan disini parodi
- 8 aneka ragam tulisan
Kelas Kesusastraan (800) bisa bergabung dengan Tabel Pembantu SS dan Tabel Pembantu SK. Ketentuannya adalah :
1. Apabila terdapat SS dan SK, maka yang digunakan adalah SK-nya (BN + SK)
2. Apabila yang ada hanya SS, dan SK-nya tidak ada, maka yang digunakan adalah SS-nya (BN + SS).
Notasi yang terdapat dalam SS dan juga dalam SK adalah untuk aneka ragam. SS untuk aneka ragam adalah 02, SK untuk aneka ragam adalah 8. Maka untuk aneka ragam harus menggunakan SK yaitu 8.
Contoh untuk kelas kesusastraan sebagai berikut.
• Menggunakan BN + SS
1. Teori Kesusasteraan Jerman
Kesusasteraan Jerman (SU) = 830 (BN0)
Teori (TT) = 01 (SS)
BNØ + SS
83Ø + 01 = 830.1
2. Kamus Kesusastraan Inggris
Kesusastraan Bahasa Inggris (SU) : 820 (BN)
Kamus ( TP) : 03 (SS)
BNØ + SS = 82Ø + 03 → 820.3
• Menggunakan BN + SK
1. Fiksi Kesusasteraan Afrika
Kesusasteraan Afrika (SU) = 896 (BN)
Fiksi (T3) = 3 (SK)
BN + SK
896 + 3 = 896.3
2. Drama Kesusasteraan Arab
Kesusasteraan Arab (SU) = 892.7 (BN )
Drama (T3) = 2 (SK)
BN + SK
892.7 + 2 = 892.72
J. Bahasa (BN + SS/SB)
Bahasa dalam bagan DDC terdapat di kelas 400. Untuk mengerjakannya pelu menggunakan Tabel Subdivisi Bahasa (SB). Tabel Subdivisi Bahasa (SB) adalah tabel pembantu dalam DDC yang hanya digunakan untuk kelas bahasa (400). Notasi-notasi yang terdapat dalam tabel Subdivisi Bahasa tidak pernah digunakan secara tersendiri tetapi dapat digunakan bersama bila perlu dengan angka dasar masing-masing Bahasa di bawah 410-490. Umpama : untuk fonologi (-15) Bahasa Indonesia (410), jadi fonologi Bahasa Indonesia adalah 411.5.
Ringkasan Tabel Subdivisi Bahasa (SB) sebagai berikut.
- 01-03 subdivisi standar
- 03 ensiklopedi dan konkordans
Golongkan kamus dari bentuk standar dari suatu bahasa dalam -3
- 1 sistem tulisan dan fonologi dari bentuk standar dari bahasa
- 2 etimologi dari bentuk standar bahasa
- 3 kamus dari bentuk standar bahasa
- 5 sistem struktural (tata bahasa) dari bentuk standar bahasa
Studi historis dan deskriptif dari morfologi dan sintaksis
- 7 bentuk-bentuk bukan standar dari bahasa
Deskripsi, analisa, penggunaan, kamus dari dialek dan bentuk-bentuk lama
- 8 penggunaan standar dari bahasa (linguistik terapan)
Penggunaan umum, formal, non formal
Kelas Bahasa (400) bisa bergabung dengan Tabel Pembantu SS dan Tabel Pembantu SB. Ketentuannya adalah :
1. Apabila terdapat SS dan SB, maka yang digunakan adalah SB-nya (BN + SB)
2. Apabila yang ada hanya SS, dan SB-nya tidak ada, maka yang digunakan adalah SS-nya (BN + SS).
Notasi yang terdapat dalam SS dan juga dalam SB adalah untuk kamus. SS untuk kamus adalah 03, SB untuk kamus adalah 3. Maka untuk kamus harus menggunakan SB yaitu 3. Disini terdapat beberapa peraturan untuk kamus, yaitu :
• Untuk kamus 1 bahasa, menggunakan SB
• Untuk kamus 2 bahasa, kamus yang dipelajari atau dipentingkan yang menjadi BN.
Contoh : Kamus Indonesia-Inggris
- Di Indonesia bahasa Inggrisnya yang dipelajari bahasa Inggris adalah BN
Bahasa Inggris (SU) = 420 (BN0)
Kamus (T4) = 3 (SB)
BNO + SB 420 + 3 = 423
423 + T6 (bahasa Indonesia = 1)
423 + 1 = 423.1
- Di Inggris bahasa Indonesia yang dipelajari bahasa Indonesia adalah BN
Bahasa Indonesia (SU) = 410 (BN0)
Kamus (T4) = 3 (SB)
BNO + SB 410 + 3 = 413
413 + T6 (bahasa Inggris = 21)
413 + 21 = 413.21
• Untuk kamus 3 bahasa atau lebih, notasinya dalam bagan adalah 403
Contoh kelas bahasa :
Menggunakan BN + SS
1. Teori Bahasa Jerman
Bahasa Jerman (SU) = 430 (BN0)
Teori (TT) = 01 (SS)
BNØ + SS
43Ø + 01 = 430.1
2. Terbitan Berseri Bahasa Perancis
Bahasa Perancis (SU) = 440 (BN 0)
Terbitan berseri (TT) = 05 (SS)
BN Ø + SS
44Ø + 05 = 440.5
Menggunakan BN + SB
1. Sistem Tulisan Bahasa Sanskrit
Bahasa Sanskrit (SU) = 491.2 (BN)
Sistem Tulisan (T4) = 11 (SB)
BN + SB
491.2 + 11 = 491.211
2. Sistem Struktural Bahasa Tagalog
Bahasa Tagalog (SU) = 499.211 (BN)
Sistem Struktural (T4) = 5 (SB)
BN + SB
499.211 + 5 = 499.2115
Catatan :
1. Untuk kelas kesusastraan dan bahasa disamping bisa menggunakan indeks juga bisa menggunakan tabel 6 ( tabel bahasa-bahasa). Dengan rumus sebagai berikut :
• Bahasa 4 + T6
• Sastra 8 + T6
Isi dari tabel bahasa-bahasa (tabel 6) adalah sebagai berikut.
- 1 Bahasa Indonesia
- 21 Bahasa Inggris
- 31 Bahasa Jerman
- 393 Bahasa Belanda
- 41 Bahasa Perancis
- 51 Bahasa Italia
- 61 Bahasa Spanyol
- 69 Bahasa Portugis
- 71 Bahasa latin
- 81 Bahasa Yunani Klasik
- 89 Bahasa Yunani modern
- 912 Bahasa Sanskrit
- 917 Bahasa Rusia
- 924 Bahasa Ibrani
- 927 Bahasa Arab
- 951 Bahasa Cina
- 956 Bahasa Jepang
- 957 Bahasa Korea
- 958 Bahasa Burma
- 959 Bahasa Thai, Kamboja, Vietnam, Khmer
- 9921 Bahasa Filipina
- 9928 Bahasa Malaysia
- 999 Bahasa-bahasa Artifisial, termasuk Esperanto
2. Antara kelas bahasa (400) dan kelas kesusastraan (800) seolah-olah hanya berbeda angka depannya saja. Kelas bahasa angka depannya 4, sedangkan Kelas kesusastraan angka depannya 8. Seperti contoh di bawah ini :
Bahasa Malaysia 499.28
Sastra Malaysia 899.28
K. Pengembangan Bahasa dan Kesusastraan Daerah
Untuk Bahasa Daerah di Indonesia adalah kelas 419. Kelas tersebut 419 diperinci dengan bahasa-bahasa daerah yang terdapat di pulau-pulau di Indonesia. Kemudian diperinci lagi bahasa apa saja yang terdapat di masing-masing pulau tersebut. Juga diperinci lagi dialek apa saja yang terdapat dalam bahasa-bahasa daerah tersebut.
Untuk Kesusastraan Daerah di Indonesia adalah kelas 819. Kelas 819 tersebut diperinci dengan kesusastraan daerah yang terdapat di pulau-pulau di Indonesia. Kemudian diperinci lagi sastra apa saja yang terdapat di masing-masing pulau tersebut. Juga diperinci lagi dialek apa saja yang terdapat dalam sastra daerah tersebut.
Antara kelas bahasa daerah dengan kelas kesusastraan daerah seolah-olah hanya berbeda angka depannya saja. Untuk kelas bahasa daerah angka depannya 4, sedangkan untuk kesusastraan daerah angka depannya 8.
Contoh untuk bahasa daerah :
419.212 Bahasa Jawa Dialek Surakarta dan Yogyakarta
Termasuk Klaten, Kulon Progo
Contoh untuk sastra daerah :
819.212 Kesusastraan Jawa Dialek Surakarta dan Yogyakarta
Termasuk Klaten, Kulon Progo
L. Geografi dan Sejarah
Geografi dan sejarah dalam bagan DDC adalah kelas 900. Tabel yang digunakan adalah Tabel Wilayah. Rumus yang digunakan adalah :
• Untuk sejarah menggunakan 9 + W
• Untuk geografi menggunakan 91 + W
Contoh sejarah suatu tempat adalah sebagai berikut.
1. Sejarah Kabupaten Klaten
9 + W
9 + 5982436 = 959.82436
2. Sejarah Kecamatan Temon
9 + W
9 + 59825526 = 959.825 526
Contoh geografi suatu tempat adalah sebagai berikut.
1. Geografi Kabupaten Klaten
91 + W = 91 + 5982436
= 915.982436
2. Geografi Kecamatan Temon
91 + W
91 + 59825526 = 915.982 552 6
Base Number adalah notasi yang terdiri dari serangkaian simbol berupa angka yang mewakili serangkai istilah (yang mencerminkan subyek tertentu) yang terdapat dalam bagan. Dengan demikian setiap kelas, bagian dan sub-bagian di dalam bagan mempunyai notasinya sendiri.
Sebelumnya perlu diketahui bahwa dalam DDC terdapat Tabel Pembantu yang berbentuk serangkaian notasi khusus yang dipakai untuk menyatakan aspek-aspek tertentu yang selalu terdapat dalam beberapa subyek yang berbeda. Dalam DDC terdapat 7 Tabel Pembantu, tetapi dalam buku “Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey” karangan Drs. Towa P. Hamakonda, MLS dan J.N.B. Tairas hanya diberikan 6 tabel pembantu yaitu : Subdivisi Standar, Wilayah, Subdivisi Kesusastraan, Subdivisi Bahasa, Ras bangsa atau kelompok nasional, dan tabel untuk merinci bahasa dokumen.
Tabel Subdivisi Standar (Tabel 1) terdiri dari dua bilangan atau lebih, dimana bilangan pertama adalah 0, dapat ditambahkan pada setiap notasi untuk bagan utama secara langsung.
Tabel Subdivisi Standar notasi-notasinya tidak pernah digukanakn secara tersendiri melainkan bila perlu dapat digunakan bersama dengan setiap angka dari bagan klasifikasi. Ringkasan Tabel Subdivisi Standar sebagai berikut :
- 01 Filsafat dan teori
- 02 Aneka ragam
- 03 Kamus, ensiklopedi, konkordans
- 04 Topik-topik khusus
- 05 Penerbitan berseri
- 06 Organisasi dan manajemen
- 07 Pendidikan, penelitian, topic-topik berkaitan
- 08 Sejarahdan deskripsi berkenaan jenis-jenis orang
- 09 Pengolahan historis, geografis, perorangan
Penggabungan Base Number dan Subdivisi Standar (BN + SS) ada 3 kemungkinan, yaitu:
1. Tertulis / petunjuk sesuai dengan apa yang tertulis dalam DDC
• Untuk yang tertulis sudah ada dalam bagan DDC, menggunakan SS = 01 – 09. Contoh : kelas 610
• Untuk yang petunjuk maksudnya adalah yang tertulis dalam DDC hanya sebagian saja, yang sebagian lagi tidak dituliskan dalam DDC. Menggunakan SS = 001 – 009. Contoh : kelas 330
2. Perintah
Terdapat perintah dalam DDC misalnya menggunakan kata “gunakan” atau “use”. SS yang digunakan adalah 001 – 009. Contoh : kelas 300
3. Kosongan
Dalam DDC tidak terdapat perintah, ataupun tidak tertulis dan tidak ada petunjuk. SS yang digunakan adalah 01 – 09. Contoh : kelas 332
Contoh penggabungan BN + SS :
1. Teori Ilmu Filsafat
Ilmu Filsafat (SU) = 100 (BN00)
Teori (TT) = 01 (SS) (Tertulis)
BNØØ + S
1ØØ + 01 = 101
2. Kamus Ilmu-ilmu Sosial
Ilmu-ilmu Sosial (SU) = 300 (BN 00)
Kamus (TT) = 01 (SS) 003 (Perintah)
BN ØØ + SS
3ØØ + 003 = 300.3
E. Penggabungan Base Number dan Wilayah (BN + W)
Tabel Wilayah (Tabel 2) adalah tabel pembantu berupa notasi tetap untuk tempat, daerah, Negara dan benua tertentu. Notasi-notasi tabel wilayah tidak pernah diguakan tersendiri melainkan bila perlu dapat digunakan bersama dengan setiap angka dari bagan ataupun melaluia notasi -09 dari subdivisi standar, umpama Partai Politik di India (-54), menjadi 324.254. Notasi wilayah dapat juga digabungkan dengan angka-angka dari tabel lain bila dinyatakan demikian, umpamanya dengan notasi subdivisi standar -025.
Ringkasan Tabel Wilayah sebagai berikut :
- 1 wilayah, daerah, tempat pada umunya
- 2 manusia pada umumnya tanpa mengindahkan wilayah, daerah
- 3 dunia jaman purbakala
- 4 Eropa. Eropa barat
- 5 asia. Timur jauh
- 6 Afrika
- 7 Amerika Utara
- 8 Amerika Selatan
- 9 Bagian-bagian lain dari bumi dan dunia lain. Oseania
Penggabungan BN dan W ada 3 kemungkinan :
1. BN + W jika ada perintah
Digunakan jika dalam bagan DCC terdapat perintah untuk menggunakan tabel wilayah.
Contoh : kelas 328
2. BN + SSG + W jika tidak ada perintah
Digunakan jika dalam bagan DDC tidak terdapat perintah untuk menggunakan tabel wilayah.
Contoh : kelas 341
3. BN + 9 + W khusus untuk kelas 361
Digunakan hanya untuk kelas-kelas khusus dalam bagan DDC.
Contoh : kelas 361
Contoh penggabungan BN + W
1. Ilmu filsafat di Irlandia
Ilmu filsafat (SU) = 100 (BN00)
Irlandia (T2) = 415 (W)
SSG = 09
BNØØ + SSG + W
1ØØ + 09 + 415 = 109.415
3. Ilmu-ilmu Sosial Singapura
Ilmu-ilmu Sosial (SU) = 300 (BN 00)
Singapura (TT) = 5957 (W)
BN ØØ + SSG + W
3ØØ + 009 + 6668 = 300.95957
F. Penggabungan BN + SS/W
Untuk menggabungkan BN + SS + W dapat menggunakan tabel Subdivisi Standar (Tabel 1) untuk SS-nya dan menggunakan Tabel Wilayah (Tabel 2) untuk W seperti yang telah uraikan di atas.
Penggabungan BN + SS/W caranya adalah dengan menambahkan angka 0 di antara SS dan W. Rumusnya adalah :
BN + SS + 0 + W
Contoh penggabungan BN + SS/W sebagai berikut.
1. Teori ilmu filsafat di Irlandia
Ilmu filsafat (SU) = 100 (BN00)
Teori (TT) = 01 (SS) (tertulis)
Irlandia (T2) = 415 (W)
BNØØ + SS + 0 + W
1ØØ + 01 + 0 + 415 = 101.0415
4. Kamus Ilmu-ilmu Sosial di Singapura
Ilmu-ilmu Sosial (SU) = 300 (BN 00)
Kamus (TT) = 01 (SS) 003 (Perintah)
Singapura = 5957 (W)
BN ØØ + SS + 0 + W
3ØØ + 003 + 0 +5957 = 300.304957
G. Penggabungan BN + W1 + W2
Untuk penggabungan BN + W1 + W2 yang digunakan adalah Tabel Wilayah (Tabel 2). Dalam hal ini wilayah yang digunakan ada 2 wilayah, yaitu W1 dan W2. Cara penggabungan BN + W1 + W2 adalah dengan cara menambahkan angka 0 di antara W1 dengan W2.
Rumus penggabungan BN + W1 + W2 ada 2 macam, yaitu :
• BN + W1 + 0 + W2
Rumus ini digunakan bila dalam bagan terdapat perintah untuk menggunakan tabel wilayah.
• BN + SSG + W1 + 0 + W2
Rumus ini digunakan bila dalam bagan tidak terdapat perintah menggunakan tabel wilayah sehingga harus menggunakan SSG.
Contoh penggabungan BN + W1 + W2
1. Ilmu-ilmu murni di Mesir dan di Filipina
Ilmu-ilmu murni (SU) = 500 (BN00)
Mesir (T2) = 621 (W1)
Filipina (T2) = 599 (W2)
SSG = 09
BNØØ + SSG + W1 + 0 + W2
5ØØ + 09 + 621 + 0 + 599 = 509.6210599
5. Kesenian dan Seni Dekorasi di Siberia dan Belanda
Kesenian dan Seni Dekorasi (SU) = 700 (BN 00)
SSG = 09
Siberia (T2) = 57 (W1)
Belanda (T2) = 492 (W2)
BN ØØ + SSG + W1 + 0 + W2
7ØØ + 09 + 57 + 0 + 492 = 709.570492
H. Tes Keterampilan (kelas 153.94)
Tes keterampilan dalam bagan DDC adalah kelas 153.94. Dalam 153.94 tersebut terdapat petunjuk untuk subdivisi standar menggunakan tiga nol, yaitu 153.940001 – 153.940009.
Untuk kelas 153.94001 – 153.94999 merupakan tes keterampilan dalam bidang tertentu. Untuk tes keterampilan dalam bidang tertentu menggunakan rumus BN1+BN2
Contoh tes keterampilan:
• Menggunakan SS (BN + SS)
1. Teori tes keterampilan
Tes keterampilan (SU) = 153.94 (BN)
Teori (TT) = 01 (SS) => 0001 (petunjuk)
BN + SS
153.94 + 0001 = 153.940001
2. Kamus tes keterampilan
Tes keterampilan (SU) = 153.94 (BN)
Kamus (TT) = 03 (SS) => 0003 (petunjuk)
BN + SS
153.94 + 0003= 153.940003
• Tes keterampilan dalam bidang tertentu (BN1 + BN2)
1. 153.94001
153.94 ( BN1 ) = Tes keterampilan
001 ( BN2 ) = Ilmu pengetahuan umum
BN1 + BN2
153.94 + 001 = 153.94001
Tes keterampilan dalam bidang ilmu pengetahuan umum
2. 153.9401
153.94 ( BN1 ) = Tes keterampilan
01 => 010 ( BN2 ) = Bibliografi
BN1 + BN2
153.94 + 010 = 153.94010 = 153.9401
Tes keterampilan dalam bidang bibliografi
I. Kesusastraan (BN + SS/SK)
Kesusastraan dalam bagan DDC terdapat di kelas 800. Dalam mengklasifikasi subyek kesusastraan menggunakan Tabel Subdivisi Kesusastraan (SK).
Tabel Subdivisi Kesusastraan (SK) adalah tabel pembantu dalam DDC yang hanya digunakan untuk kelas kesusastraan (800). Notasi-notasi yang terdapat dalam tabel Subdivisi Kesusastraan tidak pernah digunakan secara tersendiri tetapi dapat digunakan bersama bila perlu dengan angka dasar masing-masing Kesusastraan di bawah 810-890. Umpama : untuk drama (-2) Sastra Indonesia (810), jadi drama sastra Indonesia adalah 812.
Ringkasan Tabel Subdivisi Kesusastraan sebagai berikut.
- 01-07 subdivisi standar
Notasi dari Tabel 1
- 08 kumpulan teks-teks kesussastraan
Dalam lebih dari satu bentuk
- 09 sejarah, deskripsi, penilaian kritis
- 1-8 bentuk-bentuk sastra
- 1 sajak (puisi)
- 2 drama
- 3 fiksi
Golongkan disini novel
- 4 esai
- 5 pidato-pidato
- 6 surat-surat
- 7 satir dan humor
Golongkan disini parodi
- 8 aneka ragam tulisan
Kelas Kesusastraan (800) bisa bergabung dengan Tabel Pembantu SS dan Tabel Pembantu SK. Ketentuannya adalah :
1. Apabila terdapat SS dan SK, maka yang digunakan adalah SK-nya (BN + SK)
2. Apabila yang ada hanya SS, dan SK-nya tidak ada, maka yang digunakan adalah SS-nya (BN + SS).
Notasi yang terdapat dalam SS dan juga dalam SK adalah untuk aneka ragam. SS untuk aneka ragam adalah 02, SK untuk aneka ragam adalah 8. Maka untuk aneka ragam harus menggunakan SK yaitu 8.
Contoh untuk kelas kesusastraan sebagai berikut.
• Menggunakan BN + SS
1. Teori Kesusasteraan Jerman
Kesusasteraan Jerman (SU) = 830 (BN0)
Teori (TT) = 01 (SS)
BNØ + SS
83Ø + 01 = 830.1
2. Kamus Kesusastraan Inggris
Kesusastraan Bahasa Inggris (SU) : 820 (BN)
Kamus ( TP) : 03 (SS)
BNØ + SS = 82Ø + 03 → 820.3
• Menggunakan BN + SK
1. Fiksi Kesusasteraan Afrika
Kesusasteraan Afrika (SU) = 896 (BN)
Fiksi (T3) = 3 (SK)
BN + SK
896 + 3 = 896.3
2. Drama Kesusasteraan Arab
Kesusasteraan Arab (SU) = 892.7 (BN )
Drama (T3) = 2 (SK)
BN + SK
892.7 + 2 = 892.72
J. Bahasa (BN + SS/SB)
Bahasa dalam bagan DDC terdapat di kelas 400. Untuk mengerjakannya pelu menggunakan Tabel Subdivisi Bahasa (SB). Tabel Subdivisi Bahasa (SB) adalah tabel pembantu dalam DDC yang hanya digunakan untuk kelas bahasa (400). Notasi-notasi yang terdapat dalam tabel Subdivisi Bahasa tidak pernah digunakan secara tersendiri tetapi dapat digunakan bersama bila perlu dengan angka dasar masing-masing Bahasa di bawah 410-490. Umpama : untuk fonologi (-15) Bahasa Indonesia (410), jadi fonologi Bahasa Indonesia adalah 411.5.
Ringkasan Tabel Subdivisi Bahasa (SB) sebagai berikut.
- 01-03 subdivisi standar
- 03 ensiklopedi dan konkordans
Golongkan kamus dari bentuk standar dari suatu bahasa dalam -3
- 1 sistem tulisan dan fonologi dari bentuk standar dari bahasa
- 2 etimologi dari bentuk standar bahasa
- 3 kamus dari bentuk standar bahasa
- 5 sistem struktural (tata bahasa) dari bentuk standar bahasa
Studi historis dan deskriptif dari morfologi dan sintaksis
- 7 bentuk-bentuk bukan standar dari bahasa
Deskripsi, analisa, penggunaan, kamus dari dialek dan bentuk-bentuk lama
- 8 penggunaan standar dari bahasa (linguistik terapan)
Penggunaan umum, formal, non formal
Kelas Bahasa (400) bisa bergabung dengan Tabel Pembantu SS dan Tabel Pembantu SB. Ketentuannya adalah :
1. Apabila terdapat SS dan SB, maka yang digunakan adalah SB-nya (BN + SB)
2. Apabila yang ada hanya SS, dan SB-nya tidak ada, maka yang digunakan adalah SS-nya (BN + SS).
Notasi yang terdapat dalam SS dan juga dalam SB adalah untuk kamus. SS untuk kamus adalah 03, SB untuk kamus adalah 3. Maka untuk kamus harus menggunakan SB yaitu 3. Disini terdapat beberapa peraturan untuk kamus, yaitu :
• Untuk kamus 1 bahasa, menggunakan SB
• Untuk kamus 2 bahasa, kamus yang dipelajari atau dipentingkan yang menjadi BN.
Contoh : Kamus Indonesia-Inggris
- Di Indonesia bahasa Inggrisnya yang dipelajari bahasa Inggris adalah BN
Bahasa Inggris (SU) = 420 (BN0)
Kamus (T4) = 3 (SB)
BNO + SB 420 + 3 = 423
423 + T6 (bahasa Indonesia = 1)
423 + 1 = 423.1
- Di Inggris bahasa Indonesia yang dipelajari bahasa Indonesia adalah BN
Bahasa Indonesia (SU) = 410 (BN0)
Kamus (T4) = 3 (SB)
BNO + SB 410 + 3 = 413
413 + T6 (bahasa Inggris = 21)
413 + 21 = 413.21
• Untuk kamus 3 bahasa atau lebih, notasinya dalam bagan adalah 403
Contoh kelas bahasa :
Menggunakan BN + SS
1. Teori Bahasa Jerman
Bahasa Jerman (SU) = 430 (BN0)
Teori (TT) = 01 (SS)
BNØ + SS
43Ø + 01 = 430.1
2. Terbitan Berseri Bahasa Perancis
Bahasa Perancis (SU) = 440 (BN 0)
Terbitan berseri (TT) = 05 (SS)
BN Ø + SS
44Ø + 05 = 440.5
Menggunakan BN + SB
1. Sistem Tulisan Bahasa Sanskrit
Bahasa Sanskrit (SU) = 491.2 (BN)
Sistem Tulisan (T4) = 11 (SB)
BN + SB
491.2 + 11 = 491.211
2. Sistem Struktural Bahasa Tagalog
Bahasa Tagalog (SU) = 499.211 (BN)
Sistem Struktural (T4) = 5 (SB)
BN + SB
499.211 + 5 = 499.2115
Catatan :
1. Untuk kelas kesusastraan dan bahasa disamping bisa menggunakan indeks juga bisa menggunakan tabel 6 ( tabel bahasa-bahasa). Dengan rumus sebagai berikut :
• Bahasa 4 + T6
• Sastra 8 + T6
Isi dari tabel bahasa-bahasa (tabel 6) adalah sebagai berikut.
- 1 Bahasa Indonesia
- 21 Bahasa Inggris
- 31 Bahasa Jerman
- 393 Bahasa Belanda
- 41 Bahasa Perancis
- 51 Bahasa Italia
- 61 Bahasa Spanyol
- 69 Bahasa Portugis
- 71 Bahasa latin
- 81 Bahasa Yunani Klasik
- 89 Bahasa Yunani modern
- 912 Bahasa Sanskrit
- 917 Bahasa Rusia
- 924 Bahasa Ibrani
- 927 Bahasa Arab
- 951 Bahasa Cina
- 956 Bahasa Jepang
- 957 Bahasa Korea
- 958 Bahasa Burma
- 959 Bahasa Thai, Kamboja, Vietnam, Khmer
- 9921 Bahasa Filipina
- 9928 Bahasa Malaysia
- 999 Bahasa-bahasa Artifisial, termasuk Esperanto
2. Antara kelas bahasa (400) dan kelas kesusastraan (800) seolah-olah hanya berbeda angka depannya saja. Kelas bahasa angka depannya 4, sedangkan Kelas kesusastraan angka depannya 8. Seperti contoh di bawah ini :
Bahasa Malaysia 499.28
Sastra Malaysia 899.28
K. Pengembangan Bahasa dan Kesusastraan Daerah
Untuk Bahasa Daerah di Indonesia adalah kelas 419. Kelas tersebut 419 diperinci dengan bahasa-bahasa daerah yang terdapat di pulau-pulau di Indonesia. Kemudian diperinci lagi bahasa apa saja yang terdapat di masing-masing pulau tersebut. Juga diperinci lagi dialek apa saja yang terdapat dalam bahasa-bahasa daerah tersebut.
Untuk Kesusastraan Daerah di Indonesia adalah kelas 819. Kelas 819 tersebut diperinci dengan kesusastraan daerah yang terdapat di pulau-pulau di Indonesia. Kemudian diperinci lagi sastra apa saja yang terdapat di masing-masing pulau tersebut. Juga diperinci lagi dialek apa saja yang terdapat dalam sastra daerah tersebut.
Antara kelas bahasa daerah dengan kelas kesusastraan daerah seolah-olah hanya berbeda angka depannya saja. Untuk kelas bahasa daerah angka depannya 4, sedangkan untuk kesusastraan daerah angka depannya 8.
Contoh untuk bahasa daerah :
419.212 Bahasa Jawa Dialek Surakarta dan Yogyakarta
Termasuk Klaten, Kulon Progo
Contoh untuk sastra daerah :
819.212 Kesusastraan Jawa Dialek Surakarta dan Yogyakarta
Termasuk Klaten, Kulon Progo
L. Geografi dan Sejarah
Geografi dan sejarah dalam bagan DDC adalah kelas 900. Tabel yang digunakan adalah Tabel Wilayah. Rumus yang digunakan adalah :
• Untuk sejarah menggunakan 9 + W
• Untuk geografi menggunakan 91 + W
Contoh sejarah suatu tempat adalah sebagai berikut.
1. Sejarah Kabupaten Klaten
9 + W
9 + 5982436 = 959.82436
2. Sejarah Kecamatan Temon
9 + W
9 + 59825526 = 959.825 526
Contoh geografi suatu tempat adalah sebagai berikut.
1. Geografi Kabupaten Klaten
91 + W = 91 + 5982436
= 915.982436
2. Geografi Kecamatan Temon
91 + W
91 + 59825526 = 915.982 552 6
Langganan:
Postingan (Atom)